Saturday, November 2, 2013

Masa Dilupakannya Jasa




Adakalanya seorang yang tengah sukses berkarir menjalani hidup dengan sangat mewah tak akan selamanya bahagia, meski apa yang dipunya mampu di dapatkan dengan begitu mudahnya. Tak jarang melupakan orang yang berjasa dan bahkan sangat berjasa dalam menjalani hidup hingga menjadi apa yang ia ingin dan suka. Apa artinya kebahagaiaan bila lupa akan cara berterimakasih dan balas jasa. Bukan dengan memberikan apa yang dipunya semua akan selesai dan menganggap balasan yang lebih dari cukup, namun hanya cukup dengan selalu mengingat dan menyisihkan seutas senyum di bibir untuk merekalah yang berjasa akan lebih bahagia. Begitulah yang diharapakn, terlebih harapan kedua orang tua. Sampai kapanpun dan demi apapun kasih sayang kedua orang tua tak akan mampu terbalas sama dengan apa yang telah ia berikan semasa hidupnya
Supini seorang wanita yang tengah berusia lanjut lebih dari tujuh puluh tahun ini begitu ikhlas menjalani kehidupan di masa tuanya, dengan anak serta menantu yang sangat ia sayangi. Ia tinggal di pusat kota besar  bersama anak ke-duanya beserta menantu dan cucunya yang kini tengah duduk di bangku TK (Taman Kanak-kanak). Ia merasa senang menjadi seorang nenek dan melihat anaknya yang kini tengah menjadi kepala keluarga menggantikan sang suami yang telah lama meninggal. Akibat kecelakaan sepulang dari rumah dinas, suami Supini dulunya adalah seorang pegawai negeri.
Jika harus mengingat tentang kehidupan dua tahun silam bersama suaminya, maka senyum akan mengembang menghias di wajahnya yang kian keriput diganti dengan kerlingan air mata. Kehidupan supini dulunya begitu tentram sebelum sang suami meninggalkannya, sebelum anak-anaknya menikah dan tinggal bersama istri beserta suami dari anak-anak supini. Supini mempunyai tiga orang anak, dua lakil-laki dan yang teraakhir perempuan yang juga tengah menikah dan kini tinggal bersama suaminya. Akhirnya Supini kini hidup bersama anaknya yang ke dua.
Hanya sebuah dipan kecil dan atap yang sesekali meneteskan air ketika hujan tiba, ia tinggal dalam ruangan beralaskan tanah bertempat paling ujung dalam rumahnya sendiri. Rumah yang ia bangun bersama almarhum suami tercinta yang kini harus menjadi asing baginya. Tampak dari jauh mungkin hanya akan terlihat senyum yang kini di bibir tuanya, meski tubuhnya tak kuat lagi berdiri di atas tanah, tenaga yang telah lama menyusut, namun ia masih tetap mengerjakan pekerjaan layaknya seorang ibu rumah tangga.
Memasak, menyapu, mencuci piring, semua pekerjaan rumah selalu ia lakukan setiap hari, lantaran anak dan menantunya yang tengah sibuk dalam dunia kerja. Terkadang sesekali ia harus mengantar  dan menunggu cucunya di sekolah. Hal itu selalu dilakukan olehnya.
Di setiap bulan ia harus pergi mengambil uang pensiunan sang suami yang kemudian habis diminta oleh menantu dan anaknya untuk tambahan biaya hidup. Apa boleh buat, kasih sayang seorang ibu selalu tercurahkan dari tangan lemah Supini untuk anak-anaknya. Meski sering kali anaknya membentak atau dengan mudah memerintahnya membuat sarapan setiap pagi dengan menu yang ia inginkan. Namun ia tetap tersenyum dengan penuh kelembutan hati menerima perlakuan menantunya.
Semua barang berharga yang dimiliki oleh Supini kini tersisa hanya cicin pernikahan dengan suaminya, semua barang berharga miliknya harus ia jual lantaran untuk  tambahan biaya hidup anak beserta menantu dan cucu-cucunya. Pernah suatu ketika anak dan menantunya memaksa untuk  segera mengambil uang pensiuanan saat dia merasa tak mampu lagi rasanya untuk berjalan. Supini memnita untuk diantar, namun anak dan menantunya selalu sibuk entah kemana hingga akhirnya ia terpaksa memilih angkutan umum.
Saat itu nasib baik tak menyertainya, sang supir menurunkan Supini di sebuah terminal, yang bukan tempat tujuan berhentinya, dengan alasan sang supir tidak melewati jalan yang dituju Supini, sempat Supini dibentak dan dipaksa untuk turun meski ia sempat berontak untuk putar balik arah. Namun apa boleh buat semua usaha yang dilakukannya tidak digubris oleh sang supir, hingga memaksa supini untuk berjalan lebih dari 7 kilometer, sesekali ia harus menghentikan langkahnya untuk meluruskan kaki-kakinya yang tak mampu lagi untuk berjalan menyangga tubuhnya yang telah terlalu renta. Sejak saat itu pula ia tak mau lagi menaiki Bemo, teraumanya bilamana mendapat perlakuan yang sama. Untunglah meski diusianya yang telah berumur dia masih sedikit mengingat jalan yang tengah membawanya jauh dari tujuan.
Dengan mata yang keriput dan mulai berkaca-kaca ia menangisi hidupnya, “apakah aku sudah tidak diterima lagi tinggal bersama anak-anakku?”. Kata itulah yang membuat hati pedih. Bila diingat kasih sayang yang tak pernah henti terlahir dari seorang ibu, dibalas dengan perlakuan seolah bagaikan seorang pembantu, ucapan Supini menghentikan pertanyaan dua gadis remaja yang dijumpainya di sebuah halte saat ia ingin mengambil uang pensiunan. Sesekali ia mengusap-usap mata yang mulai berkaca-kaca. “ melihat anak-anak saya tumbuh dewasa dan sekarang tengah sukses, saya begitu bahagia. Namun jika adanya saya membuat susah hidup mereka, saya rela di titipkan saja ke panti jompo nak”. Begitulah lanjutnya.
Supini tak pernah meminta lebih, dia hanya ingin melihat anak-anak yang ia besarkan dengan kasih sayang dan sepenuh hati bahagia. Meski telah buah hatinya kini tengah dewasapun ia masih rela memberikan cinta kasih, apapun yang ia punya untuk anaknya, bahkan tanpa sedikitpun ia meminta. Sakit yang pernah dialami selama masa tuanya, tak pernah ia meminta untuk dibelikan obat. Semua ia lakukan sendiri lantaran tak ingin merepotkan anaknya
Begitu mudah bagi seorang anak melupakan asalnya, ibu yang telah mengandung selama sembilan bulan, membesarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang, mendidik hingga menjadi dewasa. Tak pernah mengharap imbalan apapun selain melihat anak yang didambakan dapat hidup bahagia. Keinginan kecil yang sederhana. Mungkin tengah terlupakan, bahkan tak ingat akan sulitnya menjadi orang tua. Pantaskah menjadi seorang pembantu dimasa anaknya telah dewasa hingga berkeluarga.
Tanpa adanya seorang ibu, tiadalah kita lahir ke dunia. Dunia yang membutakan dan membuat kita lupa akan darimana asal dan siapa kita, karna harta, derajat, martabat orang tengah lupa akan asal-usulnya, melupakan orang yang telah membantunya menaiki tangga kehidupan, bahkan melupakan seorang wanita yang tengah tua renta, yang dulu kulitnya kencang kini tengah keriput, yang dulu kuat berlari, kini berjalan saja mulai tak sanggup, yang dulu dapat berdiri tegak, kini mulai membungkuk, saat masih bisa terlihat oleh sang anak. Tak jarang di abaikan. Tak didengar lagi ucapan, namun begitu tak ada lagi hembusan nafasnya. Akan baru merasakan, siapakah orang yang akan masih mau mendengarkan semua yang ingin diceritakannya. Siapakah orang yang akan pertama kali panik saat sakit mengidap dalam tubuhnya. Siapakah orang yang akan memberi senyum ketulusan dan menggenggam tangannya saat ia mulai jatuh. Tik kan ada lagi. Karna yang melakukan semua itu telah pergi dan tak akan pernah lagi dijumpai dalam kehidupannya, yang pernah dianggap tidak penting dari semua orang yang baru dikenalinya.
Sudahkah kita sadar akan hal ini, apa guna derajat, harkat, martabat jika hati nurani telah mati. Sedangkan yang dikejar di duniapun bukanlah milik seutuhnya. Kesenangan sesaat rela digantikan dengan kasih sayang yang tak akan pernah mampu dibeli dengan apa yang dipunya dan didapat. Jika jasad hanya tinggal nama, semua yang dipunya akan sirna, tak dapat digunakan dan dibawa. Yang pada akhirnya telah tiadapun menjadi terlupa dan dilupa.

By Irma Kumala Sari

2 comments:

  1. moga2 ae awk dwe gk lali kro jasane wong2 tuek lan kabeh wong sng berjasa knggo awk dwe...

    ReplyDelete