Saturday, November 2, 2013

Perjuangan Besar Saat Usia Kecil



Bermain merupakan suatu hal yang lazim yang tak pernah terlupakan dalam kehidupan masa kecil, masa dimana tak ada rasa cemas, sedih, takut, selalu di selimuti kebahagian bersama, menanti hari esok dengan hati penuh kegembiraan. Hal apa lagi yang akan di lakukan dan di jumpai esok hari, begitulah kiranya pertanyaan yang selalu muncul saat menjelang malam tiba.
Berbeda dengan Dimas. Anak yang berusia duabelas tahun ini harus rela meninggalkan  masa-masa kegembiraanya, masa dimana seharusnya ia masih bisa merasakan bermain bersama teman-teman sebayanya, mandi disuangai, bermain kelereng, mengudarakan layang-layang di tengah ladang, berebut bola di tangah lapang, semua hal itu harus ia tinggalkan lantaran kondisi rumah tangga orang tua yang tak pernah terbayangkan harus ia ketahui di usia dini.
Berbahan bambu dan beralaskan tanah lantai berbentuk persegi panjang, sederhana tak begitu luas namun surga bagi Dimas,begitulah dia menyebut tempat tinggalnya, bersama kakak perempuan yang masuk Sekolah Menengah Pertama, kakek serta nenek tercintanya ia melewati perjalanan hidup yang ia rintis di kabupaten Bojonegoro. Dengan makanan seadanya dan perabotan yang ada ia tak pernah mengeluh bahkan meminta sesuatu layaknya anak seusia dirinya.
Sejak kecil Dimas hanya mengenal sosok ibu dari sang nenek tercinta, dan sosok ayah tentunya ia dapatkan dari kakeknya. Ibunya telah merantau menjadi TKI di Arab sejak ia masih kecil. Tiga tahun sekali ibunya pulang, itu pun hanya untuk menemuinya dan memberikan keperluan yang ia butuhkan untuk sekolah beserta kakak sulungnya pada waktu lebaran. Setelah itu kembali lagi kenegeri orang. Sedangkan sang ayah tidak pernah di ketahui olehnya meskipun hanya berbentuk foto, sering kali dia menanyakan tantang dimana dan siapa ayahnya, tapi saat itu pula orang tua (kakek neneknya) selalu mengalihkan pembicaraan.
Dimas kini tengah duduk di Madrasah Ibtidaiyah seusianya. Kerap kali teman sepermainanya mengajaknya untuk bermain, dia selalu menolak, baginya sepulang sekolah bertemu dan membantu kakek neneknya di ladang milik orang, itu adalah lebih dari sekedar bermain yang menyenangkan. Meski hati kecilnya harus menipu dengan seutas senyum di bibir mungilnya. Di ladang milik tetangganyalah ia sering membantu kakek neneknya, mulai dari menyabit rumput, mengairi ladang hingga memotong kayu sering ia lakukan.
Di sekolah, mungkin ia terlihat seperti halnya teman-teman sekelasnya, waktu bercada bersama teman hanya dilakukan sewaktu jam istirahat menjelang. Meski dengan kondisi kehidupan yang serba cukup, namun itu tak menghalangi niatnya untuk terus belajar mengejar cita-cita menjadi seorang polisi. Iapun selalu mendapat juara di sekolahnya, apa yang diharapkan guru darinya selalu ia laksanakan tanpa membantah, tak heran jika para guru mempercayainya dan sering mengikut sertakan dalam perlombaan antar sekolah.
Sepulang dari sekolah, Dimas selalu membantu kakeknya. Baik itu di ladang tetangganya ataupun berada di kebun milik kakeknya sendiri yang menjadi harapan satu-satunya tambahan keluarga. Untuk memotong kayu atau mengumpulkan pelepah pisang yang nantinya bisa ia jual ke tukang pencari pelepah untuk di jadikan beraneka sovenir dari bahan pelepah pisang yang telah di keringkan tersebut, menjelang malam tiba ia akan berangkat ke mushola dekat tempat tinggalnya untuk mengaji dan melaksanakan sholat berjamaah, tak jarang ia memakai lampu pijar berbahan minyak tanah untuk penerangannya ketika belajar, dengan tujuan untuk meringankan biaya tagihan listrik. Seragam sekolah pun sering ia dapatkan dari sekolah lantaran prestasi yang ia peroleh menjadikan kebanggaan tersendiri bagi sekolah dan para gurunya.
Kehidupan sederhana ini selalu ia jalani dengan penuh keceriaan, senyum simpul selalu terpancar dari raut wajah bocah ini, sebagai satu-satunya panutan dalam hidup(Parman dan Sri) kakek dan nenek Dimas sangat merasa beruntung dan bersyukur hidup dengan kedua cucunya yang bisa menerima keadaan hidup yang kini ia jalani, meski kesulitan ekonomi yang di alami menjadi kendala yang utama bagi kelurganya, namun dengan kehadiran Dimas dan Rani menjadi kekuatan untuk tetap semangat mencari berkah bagi dua orang yang kini tengah lanjut usia.
Gelak canda dari kedua cucunya menjadi keistimeaan tersendiri bagi keluarga parman, obat penawar disaat kesulitan menguras tenaga setelah seharian mencari jalan untuk menyambung hidup. Meski sulit bagi keduanya untuk menjalani namun tak pernah sedikitpun lelah terpancar diraut wajah keduanya bila berhadapan dengan dua sosok penyemangatnya, kesulitan hidup yang di alami kelurga ini tak pernah mereka rasakan, meski kadang harus menipu satu sama lain untuk menunjukkan kebahagiaan dengan menampilkan keceriaan.
Bagi Dimas memang inilah keadaan hidup yang harus ia jalani. Kerinduan pada kedua orang tua kandungnya menjadi kekuatan baginya untuk tetap semangat belajar demi cita-citanya, “ karna bila nanti aku sudah menjadi polisi dan mempunyai banyak uang, aku ingin pergi ke Arab dengan kakek,nenek, dan mbak rani ketemu sama ibu”, kata inilah yang ia ucapkan, dengan senyum merekah menyambut masa depan yang penuh harap. Kerinduan yang membendung bertahun-tahun lamanya untuk bertemu dengan ibu dan ayahnya, ayah yang tak pernah ia temui sosoknya.
“hidup di dunia ini tak mudah” inilah yang sering menjadi keluhan setiap orang, baik orang itu berpunya ataupun tidak, bagi mereka (kalangan atas) hidup mewah, apapun bisa mereka beli dan dapatkan dengan gampang, pekerjaan tetap, rumah mewah, hidup tak pernah kurang namun tak sedikit kita jumpai kata itu dari mereka, terkadang  yang tak berpunyapun akan mengatakan. “yang kaya saja masih bilang kurang, apa lagi yang miskin”.
 Semangat dan ketegaran Dimas merupakan hal yang berharga dalam hidup yang sulit di temui dengan pemikiran bocah seusianya, meski hanya sebuah harapan dan mimpi yang kini ia punya. Namun dari semua itu yang membuat dia istimewa dari anak-anak lain seusianya. Kasih sayang dan bimbingan dari orang tua yang ia dapatkan dari sosok kakek neneknya membuatnya tak pernah berhenti untuk berusaha, berusaha memahami arti kehidupa yang seharusnya tak patut ia fikirkan di usianya yang begitu dini.
Inilah yang seharusnya kita sadari. Kita yang masih mendapatkan kasih sayang orang tua yang tak pernah henti mereka berikan pada kita, kita yang selalu meminta tanpa memikirkan dari mana mereka dapatkan untuk kita, kita yang mempunyai pekerjaan tetap dengan gaji yang tinggi namun selalu kurang, membelikan suatu keinginan kita yang tak begitu penting namun begitu berarti bila untuk orang kecil. Kita yang tak pernah bersyukur dengan apa yang kita punya. Semua di anggap kurang, semua serba kurang meski sebenarnya lebih. Sedangkan jauh disana masih banyak yang membutuhkan hal yang kita buang percuama. Dimas sosok kecil yang berjiwa Besar, ikhlas menerima keadaan hidup dengan sebuah harapan yang di impikan dari segala kekurangan, namun canda tawa tak pernah luntur dari raut wajahnya, meski harus berjuta harap dan impian yang tak tau sampai kapan akan ia simpan rapat dalam hati kecilnya.
Seberat apapun cobaan hidup yang harus kita alami, sesulit apapun perjalanan hidup yang harus kita jalani tetaplah bersyukur dan tersenyum. Bukan karna kita mempunyai segala apa yang kita inginkan maka kita dapat tersenyum bahagia, tapi dengan tersenyum bahagia segala apa yang kita butuhkan akan mendapat kemudahan untuk memperolehnya. Tersenyumlah, karna senyum yang baik  tidak akan pernah mengurangi derajat seseorang.

By : Irma Kumala Sari 

0 comments:

Post a Comment