Monday, April 28, 2014

Mahluk Pengikis Moral Bangsa

Pendidikan Indonesia, selalu terjadi evaluasi dalam penerapan sistem di lapangan. Para siswa seolah menjadi bahan percobaan menteri pendidikan untuk memastikan sistem mana yang lebih efektif dan efisien sebagai bukti keberhasilan kinerja mereka. 

Pendidikan Indonesia, indentik dengan mahluk bernama Ujian Nasional (Unas). Mahluk yang seolah menjaga pintu gerbang untuk lolos dalam seleksi penerimaan selembar kertas bernama ijazah. Mahluk yang tanpa rupa, tanpa warna, tanpa bau namun memiliki kekuatan menekan dan menghasilkan kekhawatiran yang luar biasa. Dia pun sanggup menanamkan rasa pentingnya selembar ijazah, seolah menggiring sekeruman siswa untuk masuk ke jebakan yang telah dia jaga sendiri. Kekhawatiran akan ketidaklulusan dan tidak mendapat selembar ijazah. Kekhawatiran akan rasa malu sebesar langit yang akan terpasang di muka sebagai sanksi ketidaklulusan saan ujian. Sehingga dia berhasil Sebenarnya siapa UNAS itu ?, yang dengan mudah menjadi momok seluruh pelajar tiap tahunnya ? ada apa dengan ujian ?

UNAS selalu menjadi topik yang rutin diperbincangkan tiap tahunnya, baik di media cetak maupun elektronik dengan segala problem saat pelaksanaanya.

Kesuksesan UNAS menanamkan kekhawatiran berhasil membuat guru-guru memaksimalkan persiapan menghadapi ujian. Bimbingan belajar yang rutin dilakukan sejak 6 bulan sebelum ujian seolah pupuk bagi virus kekhawatiran akan menghadapi UNAS semakin tumbuh subur. Ditambah lagi dengan terus ditingkatkannya nilai standart kelulusan, serta keberagaman soal menjadi pelengkap tumbuh suburnya kekhawatiran itu. Belum lagi jika persiapan-persiapan itu dilengkapi dengan renungan atau istighozah yang membuahkan air mata, seolah menjadi penyedap akan pertumbuhan kekhawatiran. Inikah prestasi menteri pendidikan dengan menciptakan mahluk bernama UNAS ?

Ujian nasional hanya salah satu proses yang harus dilalui saat sekolah, tentunya jika mahluk itu masih dipergunakan. Mahluk ini memiliki pengelihatan yang juling dan rabun, betapa tidak, dia memberikan kelonggaran untuk siswa membodohinya dengan kecurangan-kecurangan yang nampak fulgar. Tapi apakah mahluk ini bodoh ?, ataukah dia menghendaki hal demikian dengan berpura-pura tidak mengetahui kecuranan itu. Ataukah dia sengaja menjadi mahluk yang mudah dibodohi agar tetap dipergunakan tiap tahunnya ?

Realitanya ujian hanya menguji siswa pada satu bidang, yaitu bidang kecerdasan akademik. Padahal siswa memiliki kecedasan yang beragam dan minat yang beragam pula. Sistem pendidikan Indonesia pun seperti lembaga pendoktrin penerus bangsa. Tanpa adanya pendidiikan mental ujian hanya akan mendesak siswa untuk memilih curang dan lulus daripada tetap memperjuangkan kejujuran itu sendiri. Pendidikan yang juga bertujuan untuk mencetak moral terpuji ini pun dipertanyakan fungsinya.

Mencotek bukanlah hal yang disalahkan karena sistem ujian kurang ketat, namun lebih kepada sistem pendidikan yang kurang menerapkan nilai-nilai luhur berupa kejujuran maupun perjuangan. Siswa cenderung kurang berminat untuk berproses, dan cenderung memilih yang instan. Hal itu berakibat pada pencarian jalan pintas saat ujian. Saling menoleh untuk mencuri jawaban, mencuri jawaban teman, menyalin catatan untuk digunakan bahan contekan, bahkan memmbawa smartphone untuk kirim sms atau browsing. Bukankan itu salah satu keberhasilan mahluk bernama UNAS untuk menakut-nakuti siswa ?

            Dan lebih hebatnya hasil produk dari rasa khawtir itu seperti virus kanker yang sulit diobati. Di masih berakar dan akan kambuh saat mengalami kondisi dan tekanan yang sama, misalkan saat UTS atau semester di ranah pendidikan perguruan tinggi. Penyakit ini masih banyak diderita oleh mahasiswa juga, kerennya penyakit ini tidak menimbulkan rasa sakit. Serta dibiarkan tumbuh subur di benak siswa maupun mahasiswa. Lebih parahnya penyakit ini tidak ada obatnya di apotik maupun rumah sakit.

            Angan-angan jika mahluk bernama UNAS dipecat oleh menteri pendidikan. Angan-angan jika menteri pendidikan menciptakan mahluk yang lebih berkualitas, sehingga dapat menumbuhkan mental siswa yang luhur dan tangguh. Angan-angan agar tenaga pengajar juga menjadi pasukan barisan depan dalam pemberi bekal siswa.

            Pendidikan karakterkah yang perlu dimasukkan dalam kurikulum pendidikan saat ini ?, dan pendidikan karakter saat ini menjadi lahan pendapatan bagi lembaga-lembaga tertentu. Lembaga yang mengatas namakan pendidikan ESQ (Emotional Spiritual Quotion) diakui berpengaruh dalam dinamika emosi, namun banyak ditemui hanya brsifat sementara. Karena mental dan karakter memerlukan pengawalan dan pelatihan secara continue dalam pembentukan ke arah yang lebih baik. Dengan adanya prioritas kurikulum pendidikan kepada aspek moral, akan membuat hal itu menjadi harapan atas terciptanya pemerintah yang bersih dan mementingkan kesejateraan rakyat.

            Bukan hal yang aneh jika dibiarkan terus-menerus tanpa adanya evaluasi yang memprioritaskan pada aspek moral/karakter UNAS hanya akan mencetak kader-kader pemimpin bangsa yang pintar, termasuk pintar menggelapkan uang rakyat.


Andriy

0 comments:

Post a Comment