Wednesday, November 26, 2014

Pergeseran Wasiat Mpu Tan Tantular (Eksklusif)

   Mpu tantular merupakan salah satu pujangga sastra jawa ternama yang hidup pada abad ke-14 di masa Kerajaan Majapahit, dimana pada masa ini adalah pemerintahan Raja Rajasanegara atau Prabu Hayam Wuruk. Empu Tantular merupakan keturunan dari Empu Bahula bersama Ni Dyah Ratna Manggali,Sang Empu hidup dikalangan darah Filosofis Jawa,yang mana Beliau juga dikelan seorang ahli dalam Kakawin Sutasoma dimana didalamnya tercantum "Bhineka Tunggal Ika" yang merupakan Semboyan Republik Indonesia.
    Penulis sengaja memaparkan terlebih dahulu mengenai Biografi Sang Empu Tantular, yang mana cerita selanjutnya akan mengajak pembaca untuk ikut serta memberikan jiwanya dan transformsi bersama jiwa sang empu, penulis mencoba menggali nilai-nilai yang pernah disampaikan oleh sang Empu. dan oleh Penulis hanya bisa menyampaikan, ini buka sembarangan artikel yang pembaca lain mampu membaca dan memahami artikel ini, bahkan ketika pembaca sudah membaca artikel ini hingga selesai ia akan merasakan bahwa jiwa sang empu sudah bersama dia. jika pembaca sudah tidak sanggup untuk membaca artikel ini, lebih baik pembaca untuk menutup laman ini. namun ketika memang pembaca berambisius untuk membaca artikel ini hingga selesai penulis tidak bertanggung jawab jika ada resiko pada pembaca, jadi ketika pembaca sudah tidak mampu membaca artikel ini lebih baik tutup laman ini.

*) Semboyan Bangsa
    BHINEKA TUNGGAL IKA merupakan semboyan bagi bangsa Indonesia, sebuah konsep multicultular yang mampu mengangkat dan menunjukan keaneragaman bangsa. merupakan sebuah warisan bagi bangsa yang memiliki beragam etnis,suku dan agama. Penulis mencoba menyampaikan sedikit- demi sedikit jiwa sang empu dalam bait-bait kata dalam artikel ini, setiap pembaca membaca artikel ini sang empu melalui bait-bait kata yang telah diresapi oleh pembaca akan masuk kedalam jiwa pembaca.
      Kata "Bhineka Tunggal Ika" merupakan sebuah karya sastra agama yang diambil dari Kitab Sotasoma karya Empu Tantular, yang telah dikutip para Founder Father Negara Republik ini. dengan naskah asli "Rwaneka dhatu winuwus Budha Wiswa, Bhinneki rakwa sing apan kena parwanosen,Mangka ning Jiwatwa kalawan Siwatatwa tunggal,Bhinneki tunggal ika tan hana dharwa mangrwa" kono agama Budha, Hindu dan Siwa merupakan ajaran yang berbeda, namun nilai - nilai mengajarkan kebenaran Jina (Budha), Hindu dan Siwa adalah Tunggal. Terpecah belah tapi tetap satu jua. dasar filosofi yang merupakan wasiat dari sang empu melekat pada jiwa bangsa Indonesia, dengan berbagai corak budaya,etnis dan agamanya namun merupakan kesatuan dalam suatu negara republik indonesia. Penulis sengaja menyamapaikan secara perlahan bagaimana sesunggungnya ini semboyan yang digagas ulang oleh founder father guna mempersatukan pluralisme yang ada di bangsa ini, dengan mengesampingkan sikap idealis serta diskriminasi dari berbagai faham. bahkan founder father mengambil serpiahan jiwa sang empu kedalam baitpbait semboyan bangsa indonesia, dengan harapan jiwa sang empu mampu turun atau menyusup dalam setiap generasi ke generasi. sudah terlihat jelas disini bahwa jiwa sang empu sudah menyusup dalam founder father bangsa indonesia, bertranformasi untuk mempersatukan bangsa indonesia. Namun menurut analisis penulis Penulisan, penulisan Kakawin Sotasoma dalam hal ini merupakan pesanan dari Prabu Hayam Wuruk yang merupakan Raja Majapahit pada saat itu dengan Patihnya bernama Gajah Mada, tak lepas dari politis untuk menguasai Nusantara yang mana dengan dengan mempersatukan berbagai etnis pada saat itu ( berfaham Siwa dan Budha) dengan memerintahkan Patih Gajah Mada, hingga Majapahit merupakan mampu berkuasa hingga 15 Abad lamanya. Jika dipandang sari sisi positif, banyak hal positif yang mampu dipetik dari kata Filsafat Jawa yang diciptakan oleh sang empu. Namun seiring berjalanan waktu wasiat sang empu melaui mengmudar ketika unsur politis mulai masuk mewarnai filsafat jawa tersebut. Dengan di diplomasikan kemerdekaan indonesia founder fahter seolah mulai memudarkan atau melepaskan jiwa sang empu dari dalam dirinya, bahkan ketika pak Suk*** dan Bung Ha** berhasil menjadi soerang pemimpin bangsa dengan di angkat oleh warganya, banyak pertentangan yang antara mereka berdua. Memang dalam sekolah-sekolah tidak pernah diajarkan bagaimana pertentangan tersebut, dan hanya menjelaskan bahwa kedua sosok pengubah negara yang solid dan kompak dengan membrantas para penjajah. Memang nilai-nilai sejarah yan penting ini sengaja dihapuskan olehnya, bahkan termakan oleh omonganya sendiri " seorang yang mampu mengenang negaranya, dia harus mengetahui sejarah negara tersebut" bahkan dia sendiri mencoba menghapus nilai-nilai sejarah tersebut. cukup sampai disini, tentang kelut kesah pemimpin kita, Penulis sengaja menyampaikan ini agar pembaca sadar berharganya suatu sejarah, dan penulis mencoba menggali lagi jiwa-jiwa empu tan tular yang lama telah hilang dalam diri bangsa indonesia.

*) Peringantan Pertama
Tsunami di aceh yang menewaskan berbagai kalangan dan menorak-porandakan aceh, hal tersebut merupakan peringatan pertama untuk bangsa indonesia. mengapa harus aceh ? mungkin suatu pertanyaan untuk pembaca lantas apa hubungannya dengan falsafah negara kita yang merupakan warisan dari Mpu Tantular. Ya, Penulis mencoba menyampaikan serpihan dimana dengah terjadi gerakan yang tidak elok di daerah istimewa aceh, yang mana akan lebih merusak aceh atau memecahkan aceh, dengan ini munculah peringatan pertama.

*) Peringatan Kedua
Yogyakarta terkenal akan kearifan lokalnya dengan kesultanannya, dengan adat jaw
anya. Lantas mengapa daerah Yogyakarta mendapatkan peringatan bahkan keadaan daerah tersebut baik-baik saja dan peringatan yang seperti apa? mungkin sempat terfikir dibenak pembaca mengapa Yogyakarta harus masuk dalam nominasi peringatan, Yogyakarta dengan Gempanya dengan kekutan yang dasyat yang merusak bengunan bersejarah yang merupakan keajaiban dunia. hal ini wajar karena dalam hal ini merupakan peringatan bagi daerah tersebut. Penulis sengaja tidak menyampaikan hal ini, agar pembaca mencoba menggali nilai-nilai atau maksud apa yang hendak disampaikan oleh Penulis.

dan peringatan lainnya terkait Perseran Wasiat Mpu Tantular, Pergeseran tersebut akan semakin nampak dalam bangsa ini. ketika politis didahulukan, Wasiat Mpu Tantular bukan semabarang wasiat, merupakan hal yang mendasar dengan berbagai filosofisnya. ketika suatu Kearifan lokal, Budaya, Etnis dan Agama mampu disatukan seharusnya mampu menjauhkan dari unsur politis, karena nilai-nilai tersebut sangat mendasar. ketika hal tersebut sudar dikotori oleh unsur politis dari setiap individu atau kelompok berarti sudah saatnya timbul berbagai kesenjangan dan masalah yang akan meporakporandakan indonesia. dalam hal ini penulis hanya mencoba menyampaikan dan mencoba membangkitkan jiwa sang empu kedalam bangsa ini. dengan maksud mampu membuat negara ini lebih baek.(identity:SU)